spot_imgspot_img

Lukisan Petani Garam Desa Dasun Raih Rekor Dunia

REMBANG, lasem.id – Lukisan garam bertajuk Bancaan Rupa yang dibuat di desa Dasun, Lasem, Kabupaten Rembang beberapa waktu yang lalu secara resmi tercatat sebagai “Lukisan Terbesar dari Garam” oleh Museum Rekor Dunia-Indonesia.

Penganugerahan predikat rekor dunia tersebut ditandai dengan penyerahan sertifikat oleh J. Ngandri, Direktur Pelaksana Museum Rekor Dunia Indonesia di Jakarta.

Hadir menerima sertifikat tersebut Eggy Yunaedi, perupa sekaligus pemrakarsa Bancaan Rupa, bersama Mulyono, Achirudin Bayu dan Angga Hermansah mewakili sepuluh petani garam Dasun yang telah berkolaborasi melukis Bancaan Rupa, didampingi Sujarwo Kepala Desa Dasun dan Exsan Ali Setyonugroho Carik Desa Dasun.

Foto udara lukisan raksasa yang digagas oleh Eggy Yunaedi bersama pemulia garam desa dasun berjudul “Ambengan” Bancaan Rupa"
Foto udara lukisan raksasa yang digagas oleh Eggy Yunaedi bersama pemulia garam desa dasun berjudul “Ambengan” Bancaan Rupa”

Carik Dasun, Exsan Ali mengungkapkan penghargaan MURI ini merupakan momentum bagi para pemulia garam Dasun untuk terus melestarikan garam dan hidup sejahtera. Dan penghargaan bagi seluruh masyarakat dasun yang selama ratusan tahun hidup dengan hasil tambak dan garam.

“Ini adalah momentum bagi para pemulia garam Dasun untuk terus melestarikan garam dan hidup sejahtera”, ungkap Exsan Ali

Ia juga meminta pemerintah terus memperhatikan kesejahteraan pemulia garam dengan ikut menstabilkan harga garam yang tinggi, memberikan program pemberdayaan bagi petani garam dan memastikan kualitas air sungai yang sangat berpengaruh pada kualitas garam.

Bancaan Rupa

Bancaan Rupa adalah karya seni rupa menggunakan garam dan tambak sebagai material dan media. Lukisan garam berukuran 21 x 34 meter ini merupakan kolaborasi antara Eggy Yunaedi dengan sepuluh petani garam Desa Dasun.

Lukisan yang akhirnya tercatat sebagai lukisan garam terbesar di dunia ini menghabiskan 4 ton garam dan dikerjakan selama 3 hari pada tanggal 16 sampai dengan 18 November 2023 lalu. Bancaan Rupa merupakan perhelatan seni yang sepenuhnya didukung oleh masyarakat dan Pemerintah Desa Dasun, Lasem.

Eggy terinspirasi membuat Bancaan Rupa sebagai karya kolaborasi bersama petani garam di Desa Dasun setelah mengetahui keberadaan situs Tambak Gede dan mempelajari pengetahuan lokal dan praktek tradisi warga Dasun perihal budidaya tambak, tradisi bancaan dan pemuliaan punden dari buku yang ditulis oleh warga Dasun sendiri.

Tambak Gede tempat berlangsungnya Bancaan Rupa ditengarai sebagai situs tambak garam tertua di pantura Jawa setelah monopoli garam oleh Hindia Belanda.

Dari kaca mata seni rupa modern karya seperti Bancaan Rupa lazim disebut sebagai environmental art, yaitu seni rupa yang menggunakan bentangan dan elemen alam sebagai media.

Oleh petani dan warga desa Dasun, karya ini dimaknai sebagai ungkapan syukur atas hasil garam pada tahun ini, sekaligus doa agar garam tetap memberi penghidupan yang baik pada mereka di tahun-tahun mendatang. Karena dimaknai sebagai bancaan, lukisan di atas tambak tersebut bisa dilihat sebagai ambengan untuk dibagikan dan dinikmati khalayak. Di dalam ambengan tersebut terdapat tujuh uborampe, berupa visualisasi empat elemen alam serta tiga elemen budaya yang mempengaruhi kehidupan petani garam di Desa Dasun. Empat elemen alam itu adalah matahari, bumi, air dan angin, adapun tiga elemen budaya yaitu jawa, budaya cina dan budaya keislaman yang divisualkan dalam bentuk gunungan; burung hong dan naga serta kubah masjid.

J. Ngandri mengatakan bahwa Museum Rekor Dunia-Indonesia memberikan penghargaan karena Bancaan Rupa merupakan karya yang spektakuper yang diharap bisa menginspirasi banyak orang untuk menghasilkan karya-karya besar.

Pada kesempatan tersebut Eggy Yunaedi, perupa yang memprakarsai Bancaan Rupa, mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya atas apresiasi yang diberikan oleh Museum Rekor Dunia-Indonesia dan berharap agar apresiasi ini mendorong gerakan pemajuan kebudayaan Desa Dasun sekaligus menguatkan keberadaan Tambak Gede sebagai cagar budaya. Tak lupa perupa kelahiran Rembang ini menyampaikan terima kasih kepada para petani garam yang telah berkolaborasi bersamanya mewujudkan karya tersebut. Mereka adalah: Supadi, Suparlin, Sriyono, Mulyono, Arif Yulianto, Suroso, Bisri, Mariadi, Suyoto dan Alip; juga Imam Bucah dan Sofyan Kancil. Dua yang terakhir disebut adalah pelukis yang bertindak sebagai asisten dalam proses pembuatan karya.

Mulyono, petani garam yang hadir dalam acara penyerahan sertikat Museum Rekor Dunia-Indonesia tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya. Mewakili 9 petani yang lain Mulyono menyampaikan harapapannya agar penghargaan ini bisa menarik perhatian pemerintah lebih memperhatikan petani garam utamanya dalam menjaga stabilitas harga garam.

Sementara itu Sujarwo selaku Kepala Desa Dasun yang telah mendukung dan memfasilitasi perhelatan Bancaan Rupa menyatakan bahwa Rekor Dunia Muri ini merupakan salah satu upaya Desa Dasun untuk memberi makna atas predikat Rembang sebagai kota garam.

Get in Touch

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_imgspot_img

Related Articles

spot_img

Get in Touch

18,580FansSuka
3,027PengikutMengikuti
18,800PelangganBerlangganan

Latest Posts