spot_imgspot_img

Belajar Kecerdasan Artifisial dari Selembar Batik Lasem

Selama ratusan tahun, Batik Lasem dikenal sebagai warisan budaya yang menyimpan cerita tentang sejarah, filosofi, dan keberagaman masyarakat pesisir utara Jawa. Namun kini, motif-motif batik tersebut memiliki peran baru: menjadi bahan pembelajaran teknologi kecerdasan artifisial.

Dari ruang kelas SMK Negeri 1 Rembang, seorang guru bersama tiga siswanya mencoba menghadirkan cara baru mempelajari artificial intelligence (AI). Mereka tidak hanya menggunakan teknologi, tetapi belajar memahami bagaimana sebuah sistem kecerdasan artifisial bekerja.

Adalah Anisa Rahmanti, S.Kom., M.Eng., guru Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) SMK Negeri 1 Rembang, yang mengembangkan penelitian TILAS (TinyML-based Identification of Lasem Batik Motifs).

Melalui riset tersebut, Anisa memadukan teknologi AI dengan kekayaan budaya lokal berupa Batik Tulis Lasem. Tujuannya sederhana namun penting: membuat pembelajaran AI lebih dekat dengan kehidupan peserta didik.

Membawa Riset AI dari Kampus ke Sekolah

Bagi Anisa, tantangan pembelajaran kecerdasan artifisial saat ini bukan hanya mengenalkan peserta didik pada berbagai aplikasi berbasis AI yang semakin mudah digunakan.

Hal yang lebih penting adalah membuat siswa memahami proses di balik teknologi tersebut.

Sebuah sistem AI tidak muncul secara otomatis. Di dalamnya terdapat proses panjang mulai dari pengumpulan data, pelabelan, pelatihan model, pengujian, hingga evaluasi untuk meningkatkan kemampuan sistem.

“Peserta didik perlu memahami bagaimana teknologi bekerja, bukan hanya menjadi pengguna teknologi,” menjadi gagasan yang melandasi pengembangan TILAS.

Gagasan tersebut tidak terlepas dari perjalanan akademik Anisa. Ia merupakan penerima beasiswa LPDP yang menyelesaikan pendidikan magister di Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi (DTETI) Universitas Gadjah Mada (UGM).

Dengan latar belakang riset pada bidang kecerdasan artifisial dan mikrokontroler, pengetahuan tersebut kemudian ia bawa ke lingkungan sekolah untuk dikembangkan bersama peserta didik.

Tiga Siswa TKJ Ikut Membangun AI Batik Lasem

Pengembangan TILAS dilakukan Anisa bersama tiga siswa jurusan Teknik Komputer dan Jaringan SMK Negeri 1 Rembang, yakni Arasyifa Sucipta, Laifatul Fitria, dan Sulthan Rasya Zain.

Ketiga siswa tersebut terlibat langsung dalam proses pengembangan sistem kecerdasan artifisial untuk mengenali motif Batik Lasem.

Mereka tidak hanya mempelajari teori, tetapi mengikuti proses dari awal. Mulai dari mengumpulkan gambar motif batik, melakukan pelabelan data, melatih model AI, menguji hasil prediksi, hingga mengevaluasi kesalahan yang ditemukan.

Bagi para siswa, pengalaman tersebut memberikan pemahaman baru bahwa AI bukan sekadar aplikasi yang digunakan melalui layar, melainkan teknologi yang dapat dibangun dan dikembangkan.

Mereka belajar bahwa kualitas sebuah sistem kecerdasan artifisial sangat dipengaruhi oleh kualitas data dan proses pembelajaran yang dilakukan secara berulang.

Ketika Motif Batik Mengajari Mesin Mengenali Pola

Batik Tulis Lasem dipilih sebagai objek penelitian karena memiliki karakter visual yang kuat dan beragam.

Motif seperti Latohan, Burung Hong, Sekar Jagad, Gunung Ringgit, dan Watu Pecah memiliki pola unik yang dapat digunakan sebagai data pembelajaran pengenalan citra (image recognition).

Melalui TILAS, motif-motif tersebut menjadi bahan bagi mesin untuk belajar mengenali pola.

Peserta didik dilatih memahami bagaimana komputer dapat membedakan satu motif dengan motif lainnya berdasarkan data gambar yang diberikan.

Budaya lokal yang selama ini dipandang sebagai warisan masa lalu kemudian menjadi pintu masuk untuk mempelajari teknologi masa depan.

AI dengan Perangkat Sederhana, Akurasi Capai 90 Persen

Penelitian TILAS melibatkan 108 peserta didik dalam proses uji coba pembelajaran.

Hasil pengembangan menunjukkan model kecerdasan artifisial yang dibuat mampu mengenali motif Batik Lasem dengan tingkat ketepatan sekitar 90 persen.

Menariknya, sistem tersebut dapat dijalankan menggunakan perangkat ESP32-CAM, sebuah mikrokontroler dengan kamera sederhana, tanpa membutuhkan koneksi internet.

Temuan ini menunjukkan bahwa pembelajaran AI tidak selalu membutuhkan perangkat mahal. Dengan kreativitas, kolaborasi, dan pemanfaatan sumber daya yang tersedia, sekolah dapat menghadirkan pembelajaran teknologi yang inovatif.

Dari Batik Lasem Menuju Literasi Digital

Lebih dari sekadar penelitian teknologi, TILAS menunjukkan bahwa budaya lokal dapat menjadi bagian dari pembelajaran teknologi modern.

Melalui proyek ini, siswa tidak hanya belajar tentang pemrograman, mikrokontroler, dan kecerdasan artifisial, tetapi juga semakin mengenal kekayaan budaya daerahnya sendiri.

Batik Lasem yang selama ini dikenal sebagai warisan budaya kini memperoleh makna baru: menjadi media untuk membangun literasi digital generasi muda.

Kisah Anisa Rahmanti bersama Arasyifa Sucipta, Laifatul Fitria, dan Sulthan Rasya Zain menjadi bukti bahwa inovasi tidak selalu harus dimulai dari tempat yang jauh.

Terkadang, masa depan teknologi dapat tumbuh dari ruang kelas sederhana dengan inspirasi dari lingkungan sekitar.

Dari selembar Batik Lasem, lahir pembelajaran tentang data, algoritma, dan kecerdasan artifisial.

***

Get in Touch

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_imgspot_img

Related Articles

spot_img

Get in Touch

0FansLike
0FollowersFollow
0SubscribersSubscribe

Latest Posts